Tampilkan postingan dengan label Fashion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fashion. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2009

Ekspresi Keanggunan


Foto by : Darwis Triadi

Balutan gaya mode dan ekspresi yang dibawakan dalam alunan keanggunan, menghadirkan nilai rasa yang mempunyai jiwa.


Inner beauty, merupakan kecantikan sekaligus pesona terdalam dari wanita yang muncul jujur tanpa pretensi. Dalam perwujudannya, kecantikan alami biasanya tak bisa hadir begitu saja. Ada kalanya dia membutuhkan media agar terlihat nyata. Memang terdapat beragam cara untuk “menarik” keluar keindahan kaum hawa itu, salah satunya lewat busana.

Pakaian sebagai pembalut raga, tak jarang mampu memunculkan aura keindahan seorang wanita. Itu berhasil dilakukan Sebastian Gunawan lewat karya busananya. Dengan sentuhan sederhana dan anggun, Sebastian mampu memperlihatkan rasa feminisme dalam nuansa tak berlebihan dan tertata.

Tampil dalam bentuk rancangan elegan yang dikombinasikan dengan rancangan sangat lurus dan ramping, menguatkan kesan lembut. Kehadiran permainan tekstil yang tidak saling menumpuk menjadi harmonisasi baru dengan aliran tone indah. Bentuk minimalis dengan potongan lebih sederhana bermakna sangat besar. Maksimal dalam penggunaan bahan, detail dan aksesori, namun tetap mampu menampilkan keglamoran.

Paduan gaya rancangan yang feminin, seksi dengan nuansa romantis. Pada saat perempuan Indonesia tengah bertahan dengan filosofi yang telah membaku, bahwa keindahan sebuah gaun haruslah showing the body. Sebastian mencoba menghadirkannya melalui unsur-unsur multikultur lain dengan sapuan klasik hingga pop art, berhias siluet ganda dan kain-kain melambai.

Pasar Indonesia saat ini lebih menyukai sesuatu yang glamour. Akan tetapi itu bukan satu alasan untuk tidak menghadirkan sesuatu yang baru kepada masyarakat. Memang pada akhirnya karya busana yang baik tak sekadar untuk dinikmati secara kasat mata tetapi juga menyamankan pemakainya.

Pertautan rasa antara, busana dan ornamen pendukung yang tidak saling menindih membentuk komposisi nan selaras dan dinamis. Bernyawa sekaligus menimbulkan berjuta persepsi. Dari sudut fotografi sendiri semua visualisasi tersebut dapat dipandu ke dalam bingkai nan berestetika. Pendekatannyapun lebih mengedepankan sisi natural dengan “mengajak” semua elemen, yang ada untuk hadir melengkapi. Hasilnya seperti gambar-gambar yang sekarang tengah Anda nikmati.

Model
: Dominuque, Busana: Sebastian Gunawan Telp. 021-6328470, Stylist: Daria, Make up Artist: Uthe, Lokasi: Lara Djonggrang Rest. Jl. Cik Di Tiro 4 Menteng, Jakarta Pusat. Telp. 021- 3153252, 3160288

Senin, 27 April 2009

See Bali And Be Part of It!


Foto-by: Darwis Triadi


Pada masa lalu, ungkapan terkenal di kalangan bangsa Eropa dan Amerika adalah, “See Bali before you die.” Kunjungi dan nikmati eksotisme Bali sebelum ajal menjemput.


Makanya di masa lalu kita mengenal kisah-kisah romantik dari perkawinan antar bangsa di Bali. Para artis dan seniman Eropa datang ke Bali, bertemu dengan para penari tradisional Bali. Mereka jatuh cinta kemudian beranak pinak dan meninggal di Bali.


Sebut saja kisah cinta pelukis asal Belgia, Adrien Le Mayeur De Merpes dengan penari Ni Polok pada 1930-an. Polok muda merupakan model lukisan Le Mayeur sampai kemudian cinta mereka semakin abadi. Sepeninggal Le Mayeur, Ni Polok memutuskan tidak menikah kembali dan terus menjaga lukisan-lukisan peninggalan suaminya di Museum di Sanur.


Kisah cinta lainnya hampir tipikal. Pelukis asal Spanyol, Antonio Blanco jatuh cinta pada modelnya, penari tradisional bernama: Ni Ronji. Blanco, pelukis Spanyol kelahiran Manila datang ke Bali dalam usia 41 tahun di tahun 1952. Ia jatuh cinta pada Bali, membangun rumahnya di atas sebuah bukit dan menikahi modelnya Ni Ronji.

Kisah cinta Blanco-Ronji tergolong bahagia. They lived happily ever after. Blanco meninggal dunia pada 10 Desember 1999 dalam usia 88 tahun. Ia meninggalkan istrinya, Ni Ronji, 4 putra-putri dan 9 cucu. Anda tentu dapat membayangkan keindahan hasil perpaduan kesempurnaan Catlonia Spanyol pada Blanco dan eksotisme Bali pada Ni Ronji yang menjelma pada anak dan cucu mereka.


Tidak semua kisah kawin antarbangsa di Bali berakhir dengan bahagia seperti Le Mayeur-Polok dan Blanco-Ronji. Lebih banyak lagi yang berantakan, meski belum ada survei tentang hal ini.

Namun yang pasti, perkawinan antarbangsa ini telah melahirkan satu generasi yang beru di Bali. Generasi yang tentunya akan menambah keindahan serta keunikan tersendiri buat Bali di luar ketradisionalannya.


Keindahan fashion kali ini di Majalah Prioritas BCA edisi 10 Mei-Juni 2006, memang terletak pada model, baju dan eksotisme lokasi pemotretan di Monumen Garuda Wisnu Kencana. Para model, Sabina, Georgina, Jade dan Tamara adalah perpaduan keindahan hasil perkawaninan antarbangsa.

Mereka mewarisi sosok kulit berwarna middle, perpaduan kulit tembaga dan kulit putih dengan bangun tubuh yang tinggi seperti orang tua yang berasal dari tanah seberang.


Dengan keindahan kulit dan sosok tubuh inilah pilihan baju tidak menjadi fokus utama. Kekontrasan warna lebih menjadi perhatian fotografer. Pilihan warna seperti merah yang dipilih Sabina dan Georgina dengan warna hitam cukup seronok bertumbukan dengan kulit mereka yang putih.

Buat Tamara yang mungkin gen kulit putihnya jauh lebih kuat, memang warna biru pada mini skirtnya menjadi teramat sangat kontras. Untungnya, kaki jenjang Tamara tidak kalah indah dengan gaunnya. Sementara Jade menjadi lebih tampil dengan bantuan semburat warna jingga di langit di atas bukit Unggasan, Jimbaran, tempat lokasi monumen Garuda Wisnu Kencana.


Patung ini sendiri merupakan karya pematung terkenal Bali, I Nyoman Nuarta. Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelematan lingkungan dan dunia.


Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. Dari Patung ini jarak pandangnya hingga 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot.

Lokasi pemotretan di Memedi CafĂ© di Garuda Wisnu Kencana Culture Park ini, dipadukan dengan kecantikan para model blasteran serta keindahan cakrawala di langit bukit Unggasan, seakan membenarkan ungkapan, “See Bali..”


Model: Sabina, Georgina, Jade, Tamara. Busana: Koleksi pribadi.

Kamis, 23 April 2009

Buat yang Open Minded

Foto-foto by: Darwis Triadi
Orientalismu adalah, cara pandang yang menganggap dunia timur yaitu asia, sebagai suatu dunia yang eksotik. Dunia tersebut berisi manusia-manusia yang indah dengan kebudayaan yang primitif namun menyenangkan dan memuat hal-hal yang romantik.

Pandangan inilah yang mendasari bangsa-bangsa Eropa pada masa lampau berlayar menuju negeri-negeri timur jauh. Mereka menganggap bangsa-bangsa yang tinggal di tanah tropis tersebut tentunya bangsa yang elok dengan tananhnya yang subur dan iklim yang bersahabat. Hal-hal yang bertentangan dengan kondisi tanah dan iklim Eropa yang keras.

Pandangan ini juga yang dibawa bangsa Belanda saat menguasai tanah yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia. Para orientalis Belanda menamakan tanah ini dengan sebutan mooi indie atau mooi indische yang berarti Hindia Belanda yang cantik.

Lewat baju rancangannya, Ahmad Sofie Yullah ingin membangkitkan semangat itu. Rancangan dengan tema Mooi Indische merupakan karya yang terinspirasi pandangan tentang hal-hal yang indah tersebut. “Saya ingin menggambarkan situasi saat Indonesia mendapat pengaruh kultur dari bangsa-bangsa yang dating untuk mengagumi keindahan tanah ini,” kata perancang yang menggunakan merk Sofie ini.


Baju-baju Sofie merupakan baju-baju dengan sentuhan khusus dan sophisticiate. Ia menggunakan warna-warna seperti merah maroon atau pun metallic green. “Saya mencampur warna sesuai keinginan kita sendiri. Tidak ada patokan percampuran warna yang baku. Yang penting berana saja,” ujarnya.


Warna-warna etnik seperti sutera Thailand oleh Sofie dipadukan dengna corak tradisional seperti songket dan lurik. Ia bahkan terkesan menabrakkan saja corak-corak tersebut, yang anehnya justru menimbulkan kesan unik tersendiri.


Meski demikian Sofie tak mau terjebak dengan membuat baju bergaya punk atau hippie yang sama sekali tidak mengikuti kaidah keserasian. Ia tetap memadukan keseimbangan. “Kalau atasannya sudah ramai, saya menganjurkan pengunaan bawahan yang simple. Begitupun sebaliknya,” lanjut perancang kelahiran 9 Maret ini.


Untuk mencapai keindahan, dan keserasian memang diperlukan keberanian dan sedikit kenekatan. Tentunya kenekatan yang terukur dan akan menunjukkan kematangan si pengguna. Karena itulah ia memang mengarahkan baju rancangannya teserbut kepada wanita berusia 25 tahun ke atas yang open minded dan mengerti sedikit atau bahkan sangat tertarik dengan art. Baju-baju ini akan membuat mereka berpenampilan lain di lingkungannya yang mungkin konservatif dalam berbusana.


Apakah Anda memiliki sedikit kenekatan itu?


Model: Natasha, Make Up: Uthe, Busana: Sofie, Aksesoris: Tasha D. Gioielli, Penata Gaya: Ria S