Selasa, 27 Oktober 2009

Telkomsel CBS Photo Contest 2009


Bagi anda pelanggan Telkomsel Corporate dan mempunyai hobi fotografi, ada info menarik . Manfaatkan hobi fotografi anda untuk meraih hadiah jutaan rupiah dengan mengabadikan budaya bangsa dipadukan dengan gaya hidup modern melalui BlackBerry sebagai objek fotonya. Berminat? Silahkan ikuti jadwal kualifikasi dengan periode pengiriman paling lambat 26 November 2009 (cap pos).

Pemenang dari setiap regional akan mengikuti Final di Jakarta (Transportasi dan akomodasi disediakan oleh TELKOMSEL) pada 12-13 Desember 2009.

Konsep Event

1. TEMA PHOTO: Satukan Budaya Dalam Gaya Hidup Dengan BlackBerry

2. Tiap kontestan akan mengambil 2 tipe gambar yaitu BlackBerry® sebagai object dan BlackBerry® dengan model sebagai object pada saat Kualifikasi dan Final.

3. Kriteria penjurian :

• Dapat memenuhi TEMA ACARA

• Visualisasi

• Teknis pengambilan gambar.

Photo Material Requirement

1. Peserta khusus untuk pelanggan korporat Telkomsel

2. Tiap peserta dapat mengirimkan maksimal10 foto dalam format JPEG melalui email bsphotocontest@telkomsel.co.id cc: bbphotocontest_incpro@gmail.com dan hasil cetak 10R ke alamat: Pangeran Antasari Jl. Saraswati No.46 Cipete Utara Kebayoran Baru Jakarta Selatan
12150.

3. Pengiriman foto disertai data lengkap : Nama Lengkap, Nomer Handphone, Nama & Alamat Perusahaan dan Nomer Identitas (KTP/SIM/KITAS)

4. Format pengiriman melalui email di subject email harap dicantumkan nama kota. Contoh: Jakarta_Veronika

5. Maksimum size per foto : 150KB (maksimum 900 piksel)

6. Foto harus original, bukan hasil rekayasa dan belum pernah dipublikasikan maupun diikutsertakan dalam kontes apapun.

7. RGB menjadi standard color space dalam proses penjurian

8. Olah digital hanya bisa sebatas di kamar gelap.

9. Data exif tidak boleh dihilangkan.

10. Tiap kontestan yang menggunakan model sebagai objek foto diwajibkan untuk melampirkan model release sebagai pernyataan bahwa model bersedia citranya digunakan dalam foto tersebut untuk keperluan lomba, pameran, iklan maupun tujuan komersial lainnya, serta tidak akan mengklaim royalti atas penggunaan foto tersebut.

11. Klaim yang diajukan model dikemudian hari terhadap foto tersebut diluar tanggung jawab
TELKOMSEL .

12. Pengiriman foto dalam bentuk Kolase tidak diperkenankan.

13. Multiple photograph tidak dapat disubmit dalam satu gambar.

14. Pemenang dalam kontes ini setuju dan wajib menandatangangi surat perjanjian hasil karyanya dapat dipublikasikan untuk keperluan advertising material maupun pameran yang dilakukan oleh TELKOMSEL dan TELKOMSEL berhak mereproduksi maupun mengolah lebih lanjut foto tersebut.

15. Hak Cipta karya foto tetap milik para pemenang.

16. Photo yang sudah disubmit ke panitia tidak dapat dikembalikan dengan alasan apapun.

17. Panitia tidak akan memberikan notifikasi kepada peserta untuk foto yang dikirim kepada panitia baik melalui email maupun hardcopy.

18. Finalist yang berhalangan untuk hadir di setiap regional akan ditentukan penggantinya oleh panitia.

19. Keputusan Juri adalah mutlak, sah dan tidak dapat diganggu gugat.

Jadwal Lomba
KUALIFIKASI : 1 -26 November 2009 (cap pos)
FINAL : 12- 13 Desember 2009
Pemenang dari setiap Regional akan mengikuti Final di Jakarta (Transportasi dan akomodasi ditanggung oleh TELKOMSEL).

HADIAH KUALIFIKASI

Finalist berhak atas Canon Powershot SX 120 IS (11 unit)
Pemenang Favorit Canon Powershot A480 (22 unit)

Peserta yang memenuhi persyaratan berhak mengikuti undian 1 unit BlackBerry Curve 8520 (Gemini).

Akan dipilih (1) satu pemenang di setiap regional dan akan dipilih 2 (dua) pemenang favorit disetiap regional.

HADIAH FINAL

Juara I : Nikon DSLR D90 Kit AF-S VR 18-1055mm
Juara II : Nikon DSLR D3000 Kit AF-S VR 15-55mm
Juara III : Nikon Coolpix P6000

DOORPRIZE

1 unit BlackBerry Curve 8520 (Gemini) dan berbagai perlengkapan Photography. Dewan Juri : DARWIS TRIADI,TELKOMSEL & RIM.

Keputusan Dewan Juri mutlak, sah dan tidak dapat diganggu gugat.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Account Manager perusahaan Anda. Atau klik: TelkomselBlackberryLounge

Jumat, 23 Oktober 2009

Selamat Jalan Ibu




Ibu Boediardjo

Apa yang Tuhan rencanakan dan inginkan hanya Dia sendiri yang tahu. Tak satu manusiapun bisa menerka. Pun pertemuan saya dengan almarhum Ibu Boediardjo. Tak pernah saya sangka bahwa itu menjadi cerita pertemuan kami yang terakhir.

Malam itu di tengah hembusan keceriaan pesta ulang tahun saya yang disiapkan oleh keluarga dan sahabat-sahabat, Ibu Boediardjo menyempatkan diri untuk datang dengan menggunakan kursi roda. Sebagai orang yang sudah saya anggap Ibu, saya pun mencium kaki dan pipi beliau. Ibu Boediardjo memang tak banyak bicara sepanjang malam itu. Tapi tatapan matanya sungguh “dalam”. Bahkan sampai saya mengantarkannya ke mobil untuk pulang,

Ibu Boediardjo tetap diam. Beliau hanya mewakilkan semua perasaannya lewat tatapan mata yang menyiratkan banyak makna. Sampai akhirnya berita kepulangan Beliau menghadap Tuhan menjelaskan semua arti dari kalimat tak bersuaranya. Selamat jalan Ibu…

Perjalananmu, adalah langkah untuk mengingatkan mereka yang lupa. Termasuk saya. Bahwa ada banyak hal yang harus kita lakukan dan selesaikan sebagai tanggung jawab sekaligus bekal menuju dunia hakiki yang sekarang Ibu masuki.


Selasa, 29 September 2009

“Pembantu” Pewarta Foto Era 1990-an


Telefoto

Kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membuka ruang dan cakrawala baru dalam peradaban manusia. Semua hasil olahannya kian menipiskan segala sekat baik jarak, tempat maupun waktu. Sentuhan teknologi juga begitu kuat membawa perubahan pada dunia fotografi, baik dalam tataran konvensional maupun revolusioner. Kita tentu ingat bagaimana teknologi digital hampir merubah seluruh wajah dunia fotografi. Bahkan rentetan dari ditemukannya teknologi digital inipun kian menjadi-jadi. Karena hampir semua sisi dunia fotografi modern sudah tak bisa lepas lagi darinya.


Jauh sebelum ilmu pengetahuan dan teknologi bergerak sangat jauh seperti sekarang, jarak merupakan kendala besar dalam menutupi gerak manusia. Dan persoalan jarak ketika dikaitkan dengan dunia fotografi khususnya jurnalistik tentu sangat besar pengaruhnya. Bagaimana tidak tugas seorang pewarta foto adalah memperlihatkan gambar hasil bidikannya ke seluruh dunia, terlepas dimanapun dia berada. Untuk sekarang soal tersebut tentu tak menjadi masalah besar karena teknologinya sudah mumpuni untuk melakukan hal itu. Tapi di tahun 80 sampai 90-an tentu itu menjadi masalah. Lalu bagaimana pada tahun tersebut sebuah foto dikirim?



Menurut pewarta foto senior Arbain Rambey, salah satu alat pengirim foto yang biasa digunakan oleh para pewarta foto kala itu adalah Telefoto. Adapun yang dimaksud Telefoto adalah: alat untuk mengirimkan foto jarak jauh dengan perantaraan saluran telepon. Jadi, gambar dipindai (scan), lalu data-datanya diubah menjadi data suara dan dikirim lewat jalur telepon. Saat sampai tujuan, suara dikembalikan menjadi gambar. Maka, jika saluran teleponnya sedang buruk, gambar yang diterima juga penuh "gangguan"menjadi banyak garis-garisnya. “Boleh dikatakan fungsi telefoto adalah untuk kirim foto dengan cepat, mirip faks gitulah,” papar Arbain.


Teknologi ini mulai digunakan sejak tahun 70-an, tapi diperkenalkan secara komersial baru pada akhir 80-an. Di Indonesia sendiri telephoto mulai digunakan sekitar awal 1990-an oleh beberapa media besar seperti KOMPAS, Suara Pembaruan dan ANTARA. “Harian KOMPAS membeli yang mereknya Leafax pada tahun 1990, harganya setara dua buah Toyota Kijang (waktu itu), dan langsung digunakan pada Piala Dunia 1990 Italia,” ujar Arbain. Sayangnya ketenaran alat ini tak berlangsung lama karena tak sampai lima tahun teknologinya sudah basi. “Tahun 1994 saat KOMPAS membeli Nikon Coolscan, dan mengirim foto lewat jalur digital, telefoto sudah ditinggalkan,” terang Arbain.



Secara bentuk sebenarnya alat ini sangat ringkas kira-kira sebesar kopor kecil, 30x50x20 cm. Dalam pengadaannya sendiri telefoto juga tak membutuhkan infrastruktur lain karena cuma memakai saluran telepon biasa. Arbain juga menegaskan bahwa keberadaan alat ini pada masanya sangat efisien karena pada era tersebut internet belum popular. “Untuk mengoperasikannya juga sangat mudah, terlepasa dari berapapun jaraknya selama ada saluran telepon telefoto tetap bisa digunakan,” tambahnya. Hanya saja kendala utama dari alat ini adalah kalau saluran teleponnya buruk (banyak noisenya). Karena hasil gambar yang diterima juga akan buruk.


Arbain mengaku pernah punya pengalaman menarik saat bertugas dengan menggunakan alat ini. Tepatnya pada tahun bulan Januari 1994, saat dirinya meliput tenis grand slam Australia Terbuka di Melbourne. Petugas di Bandara yang tidak tahu alat tersebut, harus memindainya sampai beberapa kali. “Mereka terus mengginterogasi saya dengan banyak pertanyaan. Intinya, mereka curiga dengan alat itu,” ujar Arbain mengenang. Saat ditanya apa keunikan dan dari telefoto bila dibandingkan dengan teknologi pengiriman foto sekarang? Secara tegas Arbain menjawab, “Telefoto sangat primitif. Sama sekali tidak ada kelebihannya. Dulu telefoto dipakai karena memang adanya hanya itu."

Seni Adalah Kebebasan

Seni adalah nilai yang identik dengan keindahan. Seni mengusung sebuah ketidakterbatasan dalam berkreasi dan berwujud karena memang pada awalnya seni dibentuk oleh proses yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri. Dengan demikian tiap individu punya kebebasan berkehendak untuk mewujudkan ekspresinya seiring dengan proses dirinya memaknai sesuatu. Seni juga tak pernah anti dengan perubahan. Justru karena perubahan itulah seni bisa berkembang luas tanpa kehilangan identitas tapi sangat mungkin memunculkan identitas baru.

Bagaimana dengan fotografi? Sebagai salah satu media transformasi seni, fotografi beserta seluk beluk dan perangkat di dalamnya ini juga tak kalis dari perubahan. Bahkan fotografi terkesan sangat membuka diri terhadap hal-hal baru. Contoh sahihnya adalah dengan semakin beragamnya aliran fotografi yang ada beserta peralatan pendukungnya. Saat ini lingkaran dunia fotografi tidak akan jauh dari Fotografi Digital dan Digital Imaging. Keduanya merupakan bentuk akulturasi antara seni dan teknologi yang sanggup memunculkan entitas baru dari seni fotografi.

Fotografi digital sanggup melahirkan kemudahan dan memangkas beberapa proses kreatif untuk membuat hasil akhir yang tak terduga-duga. Adalah sangat naïf jika kita masih melihat perkembangan dari kemudahan tersebut secara sempit. Bahwa fotografi digital sanggup menuangkan gagasan dan ekspresi dengan jalan yang lebih cepat dan “terkesan mudah” itu adalah hasil perkembangan teknologi dan budaya yang tak bisa disanggah. Kita juga tidak boleh lupa bahwa kemudahan di satu sisi pasti membawa “kesulitan” (tantangan). Karena sudah menjadi hukum alam masing-masing era akan membawa tantangan sendiri-sendiri.

Bagi saya fotografi entah apapun medianya, tetaplah fotografi. Kita jangan terkotak oleh pikiran dan pola-pola yang membelenggu bahwa fotografi harus ini dan itu. Fotografi di mata saya adalah media menuangkan inspirasi yang dapat menggerakkan kita untuk membuat sesuatu yang luar biasa. Ibarat passion fotografi adalah sebuah fantasi hasrat yang dapat bergerak dalam batas rasional dan irasional manusia. Bahkan dalam jangkauan tertentu fotografi bisa menjadi sebuah media olah rasa, baik untuk berkarya maupun berkaca. Oleh karena itu saya selalu ingin membuat sesuatu dari apa yang saya rasa dan imajinasikan dengan fotografi, tanpa mau dibatasi oleh media (alat).

Seperti karya kembang setaman yang bisa Anda nikmati di majalah ini. Bukan maksud saya untuk menyanjung diri sendiri dengan karya tersebut tapi sekadar ingin menunjukkan bahwa siapapun bisa membuat karya yang bagus tanpa harus tergantung dengan sesuatu. Artinya proses kreatif itu ada dalam diri kita bukan pada media yang membantu kita. Dewasa ini, seni fotografi telah berkembang sedemikian jauh. Jadi proses kreatif itu kian mendapat fasilitas dan tempat. Tanpa harus terpaku bagaimana penilaian orang. Karena seni adalah hasil kreasi yang sangat sulit untuk dijelaskan dan dinilai, sebab tak ada parameter baku bagi tiap-tiap individu untuk menilai sebuah seni.

Dalam berkarya saya ingin menempatkan diri laiknya burung, karena burung dapat membuat suara indah tanpa harus memperlihatkan keindahannya seperti merak. Adapun untuk proses pembuatannya saya akan membebaskan diri saya sebebas-bebasnya. Saya dapat menggunakan “cara apapun”, alat apapun dan terus mencoba hal-hal baru sampai mencapai hasil yang saya inginkan. Lewat karya yang saya buat, saya ingin orang lain bisa melihat sisi berbeda dari keindahan hidup ini. Karena sesungguhnya produk dari seni dan seni fotografi pada khususnya bukan sekadar terletak pada keindahannya, tetapi bagaimana karya tersebut bisa menggugah penikmatnya.

Simple Lighting


Membuat foto yang baik tidak terlepas dari metode pencahayaan. Dengan tata letak cahaya yang baik meski dengan satu sumber cahaya, foto bisa memberikan sebuah nuansa dan rasa yang baik serta bermakna. Oleh sebab itu menurut pandangan saya, seorang fotografer bila tidak mendalami dan menguasai teknik cahaya secara tepat dan peka, tentunya akan selalu berpikir bahwa, banyak menggunakan lampu lebih bagus dari pada satu lampu.


Buat saya, itu pemikiram keliru. Untuk menggunakan banyak lampu atau tunggal, tentunya harus memiliki alasan yang tepat. Bukan dikarenakan untuk mempertajam foto.Tapi alasannya lebih kepada makna foto yang ingin dihasilkan. Kali ini, saya ingin mengulas simple lighting. Simple lighting adalah; bagaimana kita menempatkan cahaya utama (main light) secara sederhana dengan kualitas hasil foto yang maksimal. Itulah prinsipnya.


Bicara main light buat saya sama halnya kita menggunakan cahaya matahari. Dimana seorang fotografer dituntut menghasilkan karya bagus dengan cara mengoptimalkan efek cahaya main light yang simple. Pemotretan dengan pencahayaan tunggal, selama kita bisa menganalisa dan mendalami jenis sumber cahaya atau karakter lampu, akan jauh lebih baik bila memotret dengan banyak lampu.


Akan tetapi bila ingin menggunakan lebih dari satu lampu saat pemotretan, tidak masalah. Asalkan lampu yang sifatnya pendukung tidak mengganggu main light. Sebab, efek cahaya yang keluar dari main light tentunya akan membentuk daerah bayangan (shadow) sehingga foto itu memiliki soul. Buat saya, bayangan itu tidak masalah. Dan fotografi itu adalah: cahaya dan bayangan (Light and Shadow).


Lantas bagaimana bila foto kita memiliki banyak bayangan? Dan bagaimana cara menyiasatinya? Berdasarkan pengalaman saya, pertamakali yang harus diperhatikan adalah, sebaiknya jangan pernah menaruh lampu di kiri-kanan (horisontal) model. Mengapa? Karena cahaya yang dikeluarkan dari kedua lampu itu bersifat cross light membuat kontur wajah model tidak terbentuk dengan baik.


Sebaiknya letakkan lampu di atas dan dibawah (vertikal) model sehingga kontur wajah model menjadi lebih bagus. Lampu atas menyinari bagian atas wajah. Lampu bawahnya, menyinari bagian bawah wajah, sehingga kontur wajah menjadi elips dan tidak lebar. Logikanya, kontur wajah dari atas ke bawah. Bukan dari samping kiri ke kanan atau sebaliknya.Wajah itu harus dibuat lonjong dan tidak boleh melebar.


Atau ada teknik lain bila kita ingin menggunakan 2 lampu dari satu arah. Yaitu, letakkan posisi kedua lampu secara berdampingan dengan sedikit memberikan celah (menginitip) untuk lensa agar kita bisa memotret di antara kedua lampu tersebut. Dengan teknik ini, cahaya yang dihasilkan kedua lampu itu bisa memblending (menyatu) pada wajah.


Tapi terkadang, ada fotografer ingin memberikan efek hair light. Menurut pandangan saya, bila efek tersebut tidak diperlukan, sebaiknya jangan dilakukan. Yang harus dilakukan adalah bagaimana kita bisa menempatkan cahaya yang sederhana dengan hasil maksimal. Karena seorang fotografer itu harus mampu mengoptimalkan cahaya yang simple dengan baik dan tepat untuk menghasilkan foto bagus. Caranya, berpikirlah simple dan tidak rumit.


Hal lain yang sering juga terjadi saat pemotretan model adalah komposisi. Biasanya kita terbelenggu oleh sebuah aturan komposisi yang sudah ada sejak zaman dulu yaitu: 1/3, 2/3, 3/8. Kita wajib mengetahui. Tapi tidak selalu mengikuti aturan tersebut. Biasakanlah memotret seenak mungkin sehingga kita bisa berkreatif dan menggunakan feeling yang pada akhirnya foto itu memiliki dimensi serta soul. Oleh karena itu, tidak ada batasan seberapa besar shadow yang dimiliki pada wajah model.


Oleh karena itu, biasakan memotret mengarah kepada penggunaan feeling diikuti dengan mempelajari anatomi cahaya pada wajah orang yang memiliki kekhususan. Karena itu, kita harus betul-betul bisa mendevelop cahaya itu menyatu ke wajah dan tubuh model dengan baik.


Untuk bisa menguasai anatomi cahaya pada wajah bukan dengan teori. Tapi dengan banyak berlatih dan itu tidak bisa diteorikan. Kita memotret model itu tidak harus full, ½ badan, 2/3 dan lainnya. Terkadang ada model bagusnya dipotret dari angle sebelah kiri. Atau sebaliknya. Maka dari itu, untuk mendapatkan hasil maksimal, hindari pengambilan gambar dari satu angle saja. Lakukan dari beragam angle.


Misalnya, bila Anda ingin memotret orang bertubuh gemuk, jangan pernah mengatakan tubuhnya bisa dikuruskan. Tapi kita bisa memberikan kesan kurus. Caranya, capture lah pada bagian wajahnya dengan menggunakan cahaya sempit. Buat saya, memotret orang gemuk juga menarik. Atau sebaliknya, memotret orang kurus juga bisa jelek, kalau fotonya tidak memiliki nyawa. Dimata saya, fotografi itu kasual dan tidak boleh kaku . Kalau kaku, akhirnya foto itu tidak memiliki nyawa.

Jadi feeling, kreativitas, anatomi cahaya pada tubuh dan model model harus benar-benar dikuasai oleh fotogfrer, meski hanya menggunakan satu lampu saat pemotretan. Tak ada salahnya, kita memaksimalkan lampu yang simple dengan hasil maksimal. Selamat mencoba.

Kamis, 23 Juli 2009

Sisi Lain Darwis Triadi


Rabu, 22 Juli 2009

Throught The Lens

video

Rabu, 17 Juni 2009

My Journey Feel The Light.02

video

Senin, 15 Juni 2009

My Journey Feel The Light (01)

video

Rabu, 10 Juni 2009

Candi Ratu Boko

video

Kamis, 14 Mei 2009

Majalah Indonesian Photo


Telah terbit Majalah Indonesian Photo edisi 10. Bila ingin mendapatkan, silahkan hubungi melalui email: adarwistriadi@gmail.com

Jumat, 08 Mei 2009

Rusdy Rukmarata



Foto by: Darwis Triadi


Dibalik Gerakkan Nan Lentur


Balet. Ketika Sherina Munaf menyanyi dengan memperagakan gerak balet, banyak orang tua yang tergerak mengenalkan tari ini kepada anak-anak mereka. Balet dengan alunan tubuh, tangan, putaran badan serta –terutama—gaya berjalan jinjit memang amat mempesona. Biar pun Sherina melakukannya masih jauh dari sempurna.


Mengagumi penari balet memang lebih mudah ketimbang menirukannya. Namun bagi Rusdy Rukmarata –saat masih SMA— sekadar mengagumi tak ada manfaatnya. Ia ingin menjadi profesional seperti penari Linda karim yang saat itu datang memberikan ekstra kurikuler menari di sekolahannya.


Karena peminat tak banyak, jadilah Rusdy diajak keliling menari. Cerita pun menjadi sangat biasa bagi orang yang kemudian mau konsisten dengan pilihannya. Rusdy menimba ilmu dari orang-orang piawai dibidang tari modern seperti: Linda Karim, Roy Tobing, Rudy Wowor hingga Farida Oetoyo.


Ia menjadi lebih mantap dengan menjadikan tari sebagai pilihan hidup saat memperoleh beasiswa dari British Council untuk belajar tarian kontemporer dan koreografi di London Contemporary Dance School selama 1 tahun pada 1985. “Yang paling penting dari masa sekolah di London adalah, saya menjadi amat percaya diri,” ujarnya.


Saat datang ke London, ia merasa khawatir harus bersaing dengan mahasiswa lain dari seluruh dunia. Minder tepatnya. “Saya pikir mereka orang-orang yang sudah amat expert di negara asal mereka,” kenangnya. Ternyata ia lulus program pendidikan selama satu tahun tersebut dengan hasil amat sangat memuaskan.


Pulang dari London, ia merasa yakin, tari adalah jalannya. Makanya ia meninggalkan sekolahnya di fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Universitas Nasional. “Saya merasa penari di Eropa maupun AS dapat berkembang. Karena mereka memang banyak meluangkan waktu untuk berlatih. Sementara penari di sini jarang mengasah ilmu tarinya itu,” ungkapnya.


Namun kemampuan individual Rusdy sebagai penari atau penata tari lebih berkembang atau ditunjang dengan kemampuannya berorganisasi. Ia sadar penuh balet di Indonesia belumlah dikategorikan sebagai one man show. Setenar apapun penari itu.


Dalam bidang tari ia membentuk kelompok teater tari “Era Duaribu” –maaf yang ini tak ada hubungannya dengan perusahaan penjual rumah— segera setelah pulang dari Inggris. Perkawinannya dengan Herwindra Aiko Senosoenoto juga membuka kesempatan karena ia langsung masuk dalam suatu komunitas umat Buddha Nicheren Syosyu Indonesia dengan sumber daya yang tak ada habisnya.


Rusdy yang dianugerahi sebagai Pandita Utama Buddha Dharma Indonesia pada 1993 itu, kemudian segera membentuk Eksotika Karmawibhangga Indonesia Productions. Dalam EKI ini ia kerap kali tampil dengan adik iparnya Takako Leen Senosoenoto. “Dari awal membentuk kelompok tari, saya melakukannya dengan kesadaran bahwa balet ini dapat menjadi media penyampaian suatu pesan perubahan,” ujarnya.


Untuk lebih mengefektifkannya, ia merasa perlu menggabungkan dengan cabang-cabang kesenian lainnya seperti: seni suara. Atau bahkan pewayangan khususnya denga para dalang. Karena itu dalam EKI ini bergabung pula nama-nama seperti pemusik Dian AGP dan dalang Sujiwo Tejo. Dengan nama EKI, pementasan menjadi lebih beragam dengan melibatkan unsur seni tari, musik, pedalangan bahkan ia pernah melibatkan pula penyair Sitok Srengenge dalam suatu pementasan.


Sebagai koreografer, karya Rusdy sudah terhitung banyak dipentaskan bersama kelompoknya. Seperti “Nona dan Tuan” di Makassar Art Forum pada 1999, “Madame Dasima” di TIM Jakarta (2001) hingga “Love Lost” dalam acara NAISDA Dance College End Year Production di Sydney Australia (2001).


Bagi Rusdy, tari mampu menjadi refleksi dari pemikirannya tentang kondisi sosial politik. Koreografinya mengangkat tema-tema seperti: gay, aborsi, seks bebas dan belakangan ia merasa asyik membongkar masalah-masalah sosial kota besar. Seperti masalah rumah tanga, perselingkuhan suami-istri dll. “Saya hanya ingin mengangkat persoalan-persoalan tersebut tanpa memberi penilaian. Karena memang persoalannya tidak sekadar hitam-putih,” lanjut Rusdy.


Tumbangnya kekuasaan Soeharto sedikit banyak lebih membebaskannya dalam berkreasi. “Cerita wayang yang disakralkan pada masa Orde Baru dengan sistem penilaian yang begitu hitam-putih, sekarang dapat lebih interpretative. Dan ini yang sebenarya hidup di masyarakat kita.”


Misalnya ia mencontohkan, Pandawa tidak selalu baik. Atau sebenarnya Dewi Shinta itu seorang setia atau pernah berselingkuh dan (jatuh cinta) pada Rahwana? Wah-wah. Bagaimana bisa memerankan Shinta yang cantik jelita harus bergerak seirama dengan Rahwana yang mestinya gerakkannya rada-rada break dance?


Bagi Rusdy perasaan passion atau nafsu bagi seorang pebalet dan pasangannya itu mutlak perlu. “Masalahnya bagaimana kita dapat memanfaatkan nafsu itu untuk tidak membuat kita terperangkap dan menjadi diam. Namun justru lebih kreatif dengan olah tubuh dan gerak kita,” katanya menutup pembicaraan.


Penari: Rusdy Rukmarata & Takako Leen Senosoenoto Busana: Samuel Wattimena & Koleksi Pribadi


(Majalah EYE INDONESIA, edisi 02- Februari 2002)

Selasa, 05 Mei 2009

INTERNATIONAL TEEN FASHION PHOTO COMPETITION

Buat Anda pecinta fotografi di manapun berada. Berikut ini ada sebuah lomba foto tingkat dunia. Lomba ini terbuka untuk fotografer amatir dan profesional. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan klik:

http://www.itf-pc.com/photo-competition/competition.htm


Batas akhir lomba: 01 Agustus 2009



Senin, 04 Mei 2009

Anahata Restaurant


Menikmati Hidangan Alami

Foto by: Darwis Triadi
Sambil menikmati makanan, mata kita akan dimanja oleh hamparan hutan tropis dan lembah hijau yang masih terjaga kelestariannya.

Pulau Dewata tidak hanya menjanjikan keajaiban alam dan keindahan budaya saja, tetapi juga eksotisme seni kulinernya. Masakan dengan rasa khas yang dibungkus dengan suatu seni memasak yang berbeda, tentu akan mempunyai keistimewaan tersendiri.

Apalagi kenikmatan dari makanan tersebut dipadukan dengan sebuah tempat yang tenang untuk merehatkan tubuh. Dan paduan dua kenikmatan tersebut ada di Anahata Villas & Spa Resort. Yaitu sebuah penginapan sekaligus restoran dengan seni dan cita rasa masakan tradisonal Bali yang disajikan dengan wajah berbeda.



Selain mengedepankan unsur rasa pada restorannya, tempat ini juga sangat memperhatikan estetika keseluruhannya. Nuansa back to nature yang menghiasnya diwujudkan dengan tidak mengubah elemen yang ada pada alam sama sekali.

Hal ini dimaksudkan untuk lebih memaksimalkan keindahan sumber daya tersebut. Seperti diungkapkan Dewa Gede Sudharsana, selaku executive Chef bahwa mereka hanya mengkombinasikan apa yang ada. “Sehingga unsur-unsur estetis yang menyatu dengan alam tersebut bisa dinikmati oleh para tamu,” ujarnya.



Anahata Villas & Spa Resort yang diambil dari bahasa sansekerta berarti: Cinta dan Kasih Sayang, beropersi sejak Nopember 2004 dengan mengusung visi natural retreat for mind body and soul. Dengan visi itu diharapkan tamu yang menginap atau datang akan mendapatkan sebuah keharmonisan antara jiwa, pikiran yang berpadu dengan keselarasan alam.

Selaras dengan konsep Anahata Resort, restonyapun tak mempunyai spesifikasi tertentu seperti: fusion atau cosy. Beragam hidangan dari tradisional sampai international, hingga vegetarian tersedia disini. Anahata restoran menyajikan makanan sehat, alami serta bercita rasa khas Bali.

Uniknya menurut Dewa, semua bahan makanan tersebut murni berasal dari alam sekitar. Adapun alasan resto ini mengutamakan konsep makanan tradisional Bali dengan menu sehat vegetaris, mengingat kebanyakan pengunjung atau tamu yang menginap adalah peyoga. Karena kebanyakan tamu-tamu tersebut adalah vegetarian.


Tetapi di sisi lain upaya untuk menghadirkan menu khas Bali tersebut adalah untuk memperkenalkan sekaligus mensejajarkan makanan tradisonal Indonesia khususnya Bali dengan kuliner international.

Apalagi penyajian dari masakan ini sangat mengedepankan unsur seni yang dibungkus oleh cita rasa yang tinggi. Menu unik dari Anahata adalah: Bebek goreng garing dan bebek betutu. Masakan khas Bali ini sendiri sangat jarang dihidangkan oleh restoran lain.

Menu bebek goreng garing dan bebek betutu ini sendiri diolah secara khusus serta di sajikan dengan sambal tiga warna unik dengan rasa spesial. Disamping itu, menu andalan lainnya adalah banana spring roll, yaitu: pisang goreng yang di modifikasi menggunakan kulit lumpia berisi keju dan potongan coklat di dalamnnya. Penyajiannya disertai dengan dengan saus kiwi serta orange.

Melihat tanggapan yang sangat positif dari para tamu maka tidak heran jika restoran ini mengupayakan untuk terus menjaga kepercayaan pelanggannya tersebut. Untuk menjaga cita rasa dan mempertahankan kekhasan menu tersebut, Anahata Restoran telah menyetandarkan semua sisi penyajiannya. Mulai dari resep hingga cara pengolahannya. Bahkan untuk menyempurnakan, pihak Anahata selalu melakukan uji coba secara berkala.



Hasilnya setiap tamu yang berkunjung sangat antusias menikmati hidangan tersebut. Mereka pasti ingin kembali mencicipi bebek goreng garing spesial dengan sambal khusus tersebut. Bahkan beberapa tamu khusus datang untuk itu menu khusus spesial yang hanya ada di Anahata Restoran.

(Artikel ini sudah dimuat di Majalah Prioritas BCA edisi 17, Juli-agustus 2007)

Jumat, 01 Mei 2009

Angelina Sondakh


Foto dan naskah: Darwis Triadi

Saya Tidak Kamera Face

Perempuan di hadapanku, matanya menatap langit-langit ruangan. Ia tengah merangkai kata dalam benaknya. Ia sedang mencoba untuk mengurai tanya yang kusodorkan kepadanya, tentang posisi wanita di kancah dunia politik yang didominasi kaum adam. Jemarinya yang lentik, mengusap beberapa helai rambut yang menempel dikeningnya.


Tema-tema perempuan selalu menggelitik lajang satu ini. Tak terkecuali soal rencana kuota 30 persen bagi perempuan untuk duduk di kursi lembaga tinggi negara. “Tolong berikan peluang dan sediakan panggung politik untuk perempuan,” ujar Angelina Patricia Pingkan Sondakh.


Anggota dewan dari Fraksi Partai Demokrat di Komisi X (Pendidikan, Budaya dan Pariwisata, Pemuda & Olahraga) ini, kemudian mengungkapkan bahwa ia tak ingin adanya perbedaan antar pria dan wanita. “Laki-laki dan perempuan itu memang berbeda. Tetapi mari kita bangun kemitraan laki-laki dan perempuan dalam dunia politik sekalipun” ujarnya di sela-sela pemotretan Cover Majalah Prioritas BCA edisi 15 Maret-April 2007.


Setelah menyelesaikan kalimat itu dengan kesungguhan, sarjana Ekonomi dari Unika Atmajaya Jakarta ini, kembali mengulas bibirnya dengan gincu berwarna merah. Banyak hal menarik dari mantan Putri Indonesia 2001 ini, batinku. Pengagum Mother Theresia, Hillary Clinton dan Margaret Thatcher ini memiliki segudang prestasi.


Sebut saja sebagai pendiri WOMAN (Women Act for Humanity and Environment), pengurus KNPI bidang perempuan (2003-2007), Ketua Umum Miss Indonesia Club (2005-2008), anggota Dewan Pakar Partai Demokrat, Duta Orangutan dan terakhir Duta Batik.


“Sekarang aku sudah siap untuk ditanya lagi,” tutur dara kelahiran Australia, 28 Desember 1977 ini, lantas tersenyum. Pertanyaan berikutnya mengenai, merekahnya industri perfilman di Indonesia. Kata Angie --begitu panggilan akrabnya-- diperlukan beragam piranti untuk melindungi industri film agar dapat berkembang secara sehat di Indonesia. “Sudah saatnya industri ini mendapat payung hukum yang baik,” tutur perempuan bertinggi 170 sentimeter dan berat tubuh 55 kilogram ini.


Matanya agak menerawang. Lalu, bagai rantai dan saling bertaut, Angie pun mengatakan. “Sekarang kan belum jelas bagaimana sistem perpajakan industri film di Indonesia, cara mengimport hingga perlindungan bagi sumberdayanya. Termasuk anak-anak dan artis itu sendiri,” tegas pelahap buku Hillary’s Choice.


Kedua bola matanya terus bergerak. Keningnya beberapa saat sempat berkerut. Sepertinya penyuka olahraga renang ini masih menyimpan kalimat penting. Film, kata Angie, selain sebagai sarana hiburan, juga bisa menjadi sebuah mediasi untuk menjaga nilai-nilai luhur budaya. “Jadi film tak hanya ditempatkan pada satu ruang dan fokus pada profit oriented saja,” katanya lugas.


Tapi, apakah bungsu dari lima bersaudara ini sempat terlintas ingin bermain film? “Saya sadar betul, kalau saya itu nggak kamera face,” tuturnya, kemudian ia pun tertawa lepas. Anak dari pasangan Prof. Dr. Ir. Lucky Sondakh, MEc dan Ir Saul Kartini Dotulong, termasuk perempuan sadar diri. Ia tak ingin ketenarannya itu dijadikan aji mumpung meraup keuntungan.


Buat Angie, “Lebih baik saya mencari pemetaan atau positioning dimana saya bisa menonjolkan keunggulan-keunggulan saya yang lain,” papar Angie yang aktif sebagai pembicara di berbagai seminar dan diskusi. Mulai dari urusan politik hingga pornografi. Bahkan ia pun pernah membawakan makalah Save The Last Wild Orangutan di Harvad University.

Tata Rias Wajah dan Rambut: Eja, Busana dan Aksesori: Adjie Notonegoro