Kamis, 30 April 2009

Putri Raemawasti


Foto by: Darwis Triadi
Saya Ingin Jadi Pendidik

Menjadi Putri Indonesia adalah media untuk mengeksplore segala bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya.

Bagaimana kriteria wanita yang cantik sempurna? Susah menerkanya karena sepanjang peradaban berjalan sepertinya tak seorangpun bisa sampai pada tataran tersebut. Apalagi soal kecantikan yang cenderung bergerak pada tata nilai dan ruang relatif.

Lalu apakah Puteri Indonesia, yang dibentuk oleh fisik cantik ditopang perilaku menawan dan kapasitas intelektual cerdas layak mendapat predikat wanita sempurna? Jawabannya kembali terletak pada pribadi masing-masing. Tapi setidaknya melihat Putri Raemawasti Putri Indonesia 2007, gambaran keindahan wanita itu terhampar nyata. Cantik, luwes dan berkarakter.

Jauh sebelum tertasbihkan sebagai Puteri Indonesia, lulusan Institut Teknologi Surabaya ini seolah telah menata jalan untuk merengkuh gelar tersebut. “Saya sering ikut ajang sejenis Putri Indonesia, seperti: pemilihan Puteri Jawa Timur atau Duta Wisata. Dan itu saya mulai sewaktu masih SMA,” ujar Putri.

Mengikuti ajang seperti Puteri Indonesia tentu kian mengasah semua potensi yang terkandung dalam diri dara kelahiran 5 desember 1986 ini. “Saya memang tidak memiliki bakat yang spesifik tetapi saya suka sekali nari,” ujar Putri dengan wajah penuh ekspresi.

Mengemban tugas sebagai Puteri Indonesia tentu tidak ringan palagi dalam waktu dekat tugas berat siap menanti yaitu mewakili Indonesia di ajang Miss Universe. Sebagai persiapannya, ”Setiap hari saya mengikuti kelas khusus mulai dari kepribadian, cara bicara dan hal lainnya,” ujarnya saat pemotretan Cover Majalah Prioritas BCA edisi 19-2007.

Adapun soal celah kontroversi mengenai ajang tersebut Putri menilai wajar, “Semua orang bebas berpendapat. Tapi sayang jika kita melihat segala sesuatu hanya dari sisi negatif, termasuk penyelenggaraan Miss Universe ini,” tukasnya.

Di sisi lain sebagai insan bangsa yang mencintai budaya Indonesia, Putri prihatin pada kondisi saat ini terutama soal menghilangnya budaya asli Indonesia dari bumi pertiwi. Hal ini seharusnya kian menyadarkan masyarakat agar upaya hukum harus dilakukan untuk melegitimasi kekayaan itu.

“Kebetulan sebulan lalu saya menemani Bapak Jero Wacik untuk mengimbau masyarakat agar siapapun yang mempunyai hasil karya apapun bentuknya segera mungkin untuk dipatenkan,” ujar pengagum Bunda Theresa ini. Menurut Putri ada keenggenan dari masyarakat untuk mematenkan karya atau budaya yang ada mengingat jumlahnya yang berlimpah. “Jangan karena terlalu kaya kita tak menjaganya,” tukas Puteri.

Soal gender juga tak luput dari perhatian Putri. Menurutnya jurang antara laki-laki dan perempuan di Indonesia masih sangat menganga. ” Satu hal yang pasti adalah masalah pendidikan dan kultur. Orang masih berpendapat untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi toh nantinya tidak terpakai juga,” ujar Putri serius. Masalah pendidikan sendiri memang menjadi pokok perhatian Putri.

“Pendidikan adalah aspek penting, mana mungkin kita bisa maju kalau pendidikannya kurang,” tegas Putri. Kondisi inilah yang menerbitkan keinginan Puteri agar suatu saat dirinya bisa berperan lebih dalam dunia pendidikan. “Tidak harus jadi guru, yang penting bisa berbagai ilmu,” ujar pemilik moto “Hanya keberanian yang mengubah tantangan menjadi gagasan dan peluang menjadi kesuksesan”.

Sejalan dengan terpilih menjadi Puteri Indonesia sudah sewajarnya jika saat ini pundi-pundi uang Putri juga bertambah. Bagaimana Putri menerapkan pengelolaan keuangannya. “Saya berusaha teliti mengatur pengeluaran dan selalu menyisakan penghasilan saya untuk ditabung, walaupun belum terpikir untuk melakukan investasi,“ujar Putri yang juga nasabah BCA. Soal fasilitas Putri tampaknya masih memilih ATM sebagai alat untuk membantunya bertransaksi. "Menurut saya, ATM itu praktis," ujarnya lantas tertawa.

Rabu, 29 April 2009

Desy Ratnasari

Foto by: Darwis Triadi

Arah hidup memang tak pernah bisa ditebak. Ada kalanya bahagia terkadang pula harus lara. Pun wanita ini pernah merasakan semuanya, lalu bagaimana dia menjalani semua fase tersebut?


Senyum dari wajah perempuan kelahiran Sukabumi ini masih kuat memancarkan pesonanya. Cukup untuk sejenak membenamkan kita pada sebuah romansa masa lalu. Saat seorang Desy Ratnasari dengan keelokan wajah pribuminya mampu menghipnotis puluhan mata yang menatapnya. Masa dimana kecantikannya terus mengisi ruang imaji kaum lelaki. Kini gurat keindahan wajah Desy memang tak memudar. Bahkan seiring peredaran waktu garis kecantikan itu terlihat semakin matang.


Melakukan perbincangan dengan Desy saat ini sangatlah berbeda dengan beberapa tahun silam. Semua berjalan begitu santai. Alur kalimatnya pun lebih ringan mengalir, dan hampir tak ada beban. “Fokus saya sekarang adalah bekerja dan mendidik anak,” ujarnya saat pemotretan Cover Majalah Prioritas BCA edisi 18 September-Oktober 2007.


Kegagalan perkawinan memang telah membawa Desy pada realitas hidup yang lain yaitu: berlaku sebagai orang tua tunggal. Tak semua orang bisa menikmati peran ini, tapi hal ini mampu dijalani Desy dengan penuh ketegaran. “Saya sadar bahwa tanggung jawab menjaga dan membesarkan anak sendirian memang berat. Tapi kalau kita bisa melakukannya ada kepuasan yang luar biasa,” ungkapnya.


Menurut wanita yang memegang motto Hari esok harus lebih baik dari hari ini, anak merupakan investasi paling berharga dalam hidupnya. Oleh karena itu ia pun cukup teliti mempersiapkan segala piranti guna menjaga investasi itu. Asuransi pendidikan, pemilihan sekolah, hingga lingkungan yang bisa membentuk sisi psikologi anak, semua telah ditata dengan rinci.


“Saya berusaha menempatkan diri saya sebagai contoh bagi anak saya. Meskipun tidak ideal tapi setidaknya saya bisa menjadi figur yang konsisten bagi dia,” tukasnya. Dan lanjut Desy, “Pada gilirannya nanti, anak memang akan melangkah membawa dirinya sendiri.”


Kematangan artis yang gemar nonton ini dalam mempersiapkan pendidikan untuk anaknya juga sejalan dengan kesiapannya dalam memanage sistem keuangan. “Pertama saya menjalankan anjuran orang tua untuk memiliki aset-aset yang sifatnya keras seperti: rumah atau tanah terlebih dahulu,” ujarnya. Dan setelah itu, perempuan kelahiran 12 Desember ini menempatkan hasil kerjanya lewat produk tabungan, reksa dana atau deposito.


“Semua saya tempatkan sesuai porsinya masing-masing,” tambah Desy. Alasan Desy memilih semua produk investasi perbankan karena masing-masing pos investasi itu mempunyai kekuatan dan keistimewaan sendiri-sendiri, ditambah dengan risikonya yang tak terlampau besar. Desy juga mempunyai pertimbangan sendiri untuk lebih bijak mengatur pengeluaran kebutuhan hidupnya.


Mengingat bentuk profesinya yang tidak bisa mendatangkan penghasilan dengan nilai persentase sama tiap tahunnya. “Saya harus mempunyai rencana jangka panjang dan pendek. Karena pekerjaan seperti saya ini tidak tentu. Kadang bisa banyak atau sedikit,” paparnya.


Untuk memanfaatkan fasilitas perbankan sendiri, Desy yang juga salah satu nasabah BCA ini termasuk orang yang sangat konvensional. “Bagi saya ATM itu sudah juara banget deh pokoknya,” ujar lulusan S2 Psikologi management Sumber Daya Manusia Universitas Indonesia ini.


Secara jujur ia mengaku bahwa; “Saya termasuk orang yang gaptek dan dan tak mau terlalu ribet,” paparnya. Meski sempat terpikir oleh Desy untuk mencoba fasilitas lain. “Tapi jatuh-jatuhnya ya ke ATM lagi. Atau memilih untuk bertemu dengan mbak teller yang cantik-cantik,” ujarnya lantas tersenyum.


Lalu bagaimana pandangan Desy soal lelaki ideal? Seperti apakah sosok pria yang pernah menghampar di benaknya. “Ah semua laki-laki sama saja. Buktinya dua kali saya menikah hasilnya begini,” papar presenter Gebyar BCA ini sembari tergelak.


Soal penilainnya terhadap lelaki yang pandai mengatur keuangan, Desy memandang itu sebagai hal positif. “Terlepas dari pintar atau tidaknya mengatur keuangan, yang penting laki-laki itu harus baik dan mengerti kebutuhan pasangannya. Intinya mah jangan pelit, capek deh,” tuturnya lagi-lagi diselingi tawa.


Desy memang telah menapaki era keemasan, sehingga obsesi untuk meraih kesuksesan yang lebih besar atau sekadar mempertahankan citra keglamourannya sudah tak begitu penting. Bahkan saat kaum figur publik tengah berusaha menaikkan nilai mereka di mata khalayak, Desy justru menyikapi dengan cara lain.


Citra diri merupakan perwujudan yang seharusnya dihadirkan apa adanya. “Bagi saya imej itu tidak penting,” sergahnya. Menurut Ibunda Nasywa Nathania Hamzah ini, hal terbaik untuk dihargai orang justru dengan menjadi diri sendiri. “Sesuatu yang murni sejelek apapun itu, pasti lebih punya nilai. Dan saya yakin segala sesuatu yang dibuat-buat itu pada akhirnya akan kelihatan juga,” tuturnya.


Busana: Biyan Butik, Plaza Senayan Lt.1 Make up: Uthe

Ekspresi Keanggunan


Foto by : Darwis Triadi

Balutan gaya mode dan ekspresi yang dibawakan dalam alunan keanggunan, menghadirkan nilai rasa yang mempunyai jiwa.


Inner beauty, merupakan kecantikan sekaligus pesona terdalam dari wanita yang muncul jujur tanpa pretensi. Dalam perwujudannya, kecantikan alami biasanya tak bisa hadir begitu saja. Ada kalanya dia membutuhkan media agar terlihat nyata. Memang terdapat beragam cara untuk “menarik” keluar keindahan kaum hawa itu, salah satunya lewat busana.

Pakaian sebagai pembalut raga, tak jarang mampu memunculkan aura keindahan seorang wanita. Itu berhasil dilakukan Sebastian Gunawan lewat karya busananya. Dengan sentuhan sederhana dan anggun, Sebastian mampu memperlihatkan rasa feminisme dalam nuansa tak berlebihan dan tertata.

Tampil dalam bentuk rancangan elegan yang dikombinasikan dengan rancangan sangat lurus dan ramping, menguatkan kesan lembut. Kehadiran permainan tekstil yang tidak saling menumpuk menjadi harmonisasi baru dengan aliran tone indah. Bentuk minimalis dengan potongan lebih sederhana bermakna sangat besar. Maksimal dalam penggunaan bahan, detail dan aksesori, namun tetap mampu menampilkan keglamoran.

Paduan gaya rancangan yang feminin, seksi dengan nuansa romantis. Pada saat perempuan Indonesia tengah bertahan dengan filosofi yang telah membaku, bahwa keindahan sebuah gaun haruslah showing the body. Sebastian mencoba menghadirkannya melalui unsur-unsur multikultur lain dengan sapuan klasik hingga pop art, berhias siluet ganda dan kain-kain melambai.

Pasar Indonesia saat ini lebih menyukai sesuatu yang glamour. Akan tetapi itu bukan satu alasan untuk tidak menghadirkan sesuatu yang baru kepada masyarakat. Memang pada akhirnya karya busana yang baik tak sekadar untuk dinikmati secara kasat mata tetapi juga menyamankan pemakainya.

Pertautan rasa antara, busana dan ornamen pendukung yang tidak saling menindih membentuk komposisi nan selaras dan dinamis. Bernyawa sekaligus menimbulkan berjuta persepsi. Dari sudut fotografi sendiri semua visualisasi tersebut dapat dipandu ke dalam bingkai nan berestetika. Pendekatannyapun lebih mengedepankan sisi natural dengan “mengajak” semua elemen, yang ada untuk hadir melengkapi. Hasilnya seperti gambar-gambar yang sekarang tengah Anda nikmati.

Model
: Dominuque, Busana: Sebastian Gunawan Telp. 021-6328470, Stylist: Daria, Make up Artist: Uthe, Lokasi: Lara Djonggrang Rest. Jl. Cik Di Tiro 4 Menteng, Jakarta Pusat. Telp. 021- 3153252, 3160288

Titi Kamal


Foto By: Darwis Triadi
Akting Untuk Sebuah Kepuasan


Ketenaran dan limpahan rezeki di masa muda sama sekali tak menghilangkan motivasinya untuk mencari tantangan-tantangan baru.

Nadi industri hiburan Tanah Air saat ini tengah berdegup kencang. Hampir semua item yang menjadi bagian integral darinya terus merebak menebar harum. Seperti yang diperlihatkan oleh industri film. Perlahan tapi pasti industri ini terus memperlihatkan riaknya dan bergerak mencari bentuk sekaligus menata dirinya agar tak terhanyut oleh euforia sesaat. Pendapat serupa juga ditunjukkan oleh salah satu pelaku industri ini Yaitu Titi Kamal. “Film indonesia sekarang terus tumbuh. Dari hari ke hari semakin banyak sineas muda kreatif yang membuat film dengan tema beragam,” ujar pemilik nama asli Kurniaty Kamalia tersebut.

Pun menurut dara kelahiran 07 desember 1981 ini, film nasional tetap mampu menjaga momentum kebangkitannya. Perlahan namun pasti masyarakat Indonesia sudah bisa menerima film karya anak bangsa ini, indikasinya,” Aku pernah lihat empat gedung film, tiga diantaranya memutar film Indonesia,” tukas Titi. Kondisi ini membuat Titi ingin segera kembali dalam keriuhan dunia akting setelah rehat sesaat. Mengawali tahun 2008 diapun kembali kembali disibukkan oleh syuting film terbarunya bergenre komedi dengan judul Tri Masgetir.

Bermain dalam film komedi adalah pengalaman kedua bagi kekasih Christian Sugiono ini setelah sebelumnya sukses berakting di film bertema sejenis yaitu “Mendadak Dangdut”. Bahkan di film tersebut bintang video klip Slank ini menuai beberapa penghargaan yaitu: Aktris Penyanyi Terbaik, Pasangan Terbaik dan pasangan Terfavorit dalam Indonesian Movie Awards 2007. Sebenarnya apa alasan Titi mau kembali dalam film komedi? “Tidak ada kriteria khusus, yang penting aku suka dengan karakter yang aku mainin, sutradaranya, jalan ceritanya dan orang-orang yang bekerja di belakangnya.”

Titi bahkan tak terlampau mempermasalahkan jika harus tak bermain film dalam jangka waktu lama karena dia tak terlalu suka dengan karakter tokoh yang harus diperankannya. Dalam lingkungan profesi maupuan di tengah masyarakat luas hampir tak ada yang meragukan kemampuan akting Titi. Apalagi dalam beberapa kesempatan figur publik yang lebih senang dikenal sebagai aktris daripada selebritas ini terus mengeksplorasi kemampuan dirinya lewat beragam cara. “Ada banyak referensi yang bisa aku gunakan untuk belajar,” tegasnya. Dan saat hasil kerja kerasnya bisa membuahkan hasil tentu menimbulkan kepuasan tak ternilai baginya. “Contohnya kaya kemarin itu tiba-tiba harus menyanyi dangdut, tidak kepikiran ternyata bisa mendapatkan penghargaan,” tambah Titi lagi.

Menjadi salah satu pelaku di industri yang dikenal sanggup mendatangkan gemerincing uang tentu membuat Titi harus bisa memanage sistem keuangannya dengan baik. Karena kita sering melihat beberapa orang mengalami "gagap budaya" dengan penghasilannya. Mereka cenderung mengalir begitu saja menuruti gejolak hati masa muda. Intinya easy comes easy goes. “Untuk memaintain keuangan aku dibantu oleh financial consultant terus ada lawyernya juga,” ujar juara pertama Cover Girl Aneka, 1997 tersebut.

Disamping itu peraih penghargaan Aktris terpuji dari Festival Film Bandung (FFB) 2005 ini juga melakukan investasi dengan terjun sebagai pengusaha rumah makan. “Aku buka restoran sunda namanya "Riung Sari",” ujar Titi diselingi ketawa kecil. Menurut Titi pada awalnya dia ingin membuka rumah makan padang tapi mengingat sudah ada saingan di dekat lokasi yang dipilihnya niat itu diurungkan. Selain restoran Titi juga membuka toko grosir untuk baju anak-anak di pasar Tanah Abang. “Kebetulan aku sendiri kan Duta pasar Tanah Abang,” ujarnya disela-sela pemotretan untuk Cover Majalah Prioritas BCA edisi 20-2008.

Untuk hobi sendiri Titi mengaku sangat senang bepergian menikmati budaya negara lain di luar Indonesia. “Karena senang travelling aku jadinya senang baca buku soal tempat-tempat indah yang tersebar di seluruh dunia,” papar Titi. Di sisi lain Titi juga masih memendam keinginan untuk bisa go international dan menjadi produser. Jalan untuk kesanapun tengah diretasnya. “Aku sedang nabung dan mau mencoba ikutan casting untuk sebuah peran tapi masih belum pasti sih,” ujar Titi merendah.

Memes



Foto by: Darwis Triadi

Semua Ada Waktunya


Tak banyak orang bisa menjalani karier dan kehidupan kesehariannya secara proporsional barangkali Memes adalah salah satunya.


Cinta tak pernah berhenti melepaskan bias-bias keajaiban, kelopaknya juga tak pernah pupus melahirkan tumpukan inspirasi. Contohnya, cinta mampu menjaga keutuhan pernikahan musisi Addie MS dan Memes hingga memasuki usia ke -20. Cinta juga menjadi inspirasi bagi keduanya untuk melahirkan konser bertajuk “Keajaiban Cinta“.


Konser itu sendiri sanggup meninggalkan kesan bagi Memes. “Secara keseluruhan aku puas karena konser tersebut sanggup menyajikan sesuatu yang beda dan jarang.” Di samping itu, hal lain yang membuat Memes tersentuh adalah banyaknya penonton yang tergugah hatinya setelah menyaksikan pertunjukan tersebut. “Seusai konser banyak penonton yang nangis. Aku sendiri nggak tahu kenapa. Tapi menurutku ini luar biasa,”ujar Memes.


Memes mengawali kiprahnya di blantika musik Indonesia melalui album Terlanjur Sayang di tahun 1994. Lagu Terlanjur Sayang yang sama dengan judul albumnya cukup sukses di pasaran. Bahkan YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia) menyebutnya sebagai lagu yang paling sering diputar selama tahun 1995.


Meski dikenal sebagai penyanyi, perempuan bernama Meidyana Maimunah mengenal jagad hiburan dari dunia model dan tari. Memes pernah tercatat sebagai finalis II wajah Femina dan anggota Swara Mahardhika angkatan IX. Bahkan dunia tari tak benar-benar ditinggalkan Memes. “Bulan April nanti saya terlibat pementasan sendra tari wayang bharata.”


Sebagai seorang penyanyi memes cukup produktif melahirkan album. Terhitung selama 18 tahun berkarier sebagi penyanyi sudah 8 album dihasilkannya, meski tak semuanya meledak seperti album pertama dan ke tiga. “Saat ini persaingan di industri musik sangat ketat. Masalah yang dihadapi juga lebih kompleks selain maraknya pembajakan jumlah penyanyi dan band baru terus bermunculan,” ujar Memes.


Selain masalah di atas hal lain yang menurut Memes turut menambah sengit peta persaingan adalah semakin banyaknya band indie serta kontes pencarian bakat di televisi. Hal inilah yang membuat Memes makin sadar akan fase kehidupan yang harus dijalani. “Roda berputar kita tak bisa menolaknya,” ujarnya santai.


Hal itu pula yang membuat Memes mencoba merambah dunia lain di luar hiburan yaitu bisnis properti. “Semuanya masih dalam taraf penjajakan,” tukasnya. Meski belum memutuskan untuk mengelola bisnis properti, tapi untuk soal investasi properti adalah salah satu pilihan Memes. Di samping reksadana dan media investasi lainnya.


Sebagai pribadi biasa Memes terbilang cukup sukses menjalani kehidupan kesehariannya. Hampir tidak ada berita-berita sensasional dari dirinya dan keluarga. Memes menikah dengan musisi Addie MS pada tanggal 13 September 1987. Dari pernikahan mereka lahir Kevin Aprilio dan Tristan Juliano.


Meski tak ingin menjadikan kedua anaknya sebagai musisi tetapi aliran darah dari kedua orang tuanya begitu kental mempengaruhi keduanya. “Anakku yang nomor dua senang dengan musik klasik. Sedang Kevin mungkin tahun ini akan rilis album. Dia yang ciptakan lagunya sekaligus main piano tapi tidak nyanyi,” ujar Memes.


Sampai kapan Memes akan bernyanyi? “Karena sudah panggilan jiwa, aku akan terus bernyanyi selama Tuhan masih memberi energi.” Meski di satu sisi Memes mengisyaratkan dia mungkin akan berhenti menerbitkan kreasinya dalam bentuk rekaman. “Untuk membuat album butuh perhitungan yang rasional,” uajar Memes menutup pembicaraan.

Bali


Foto by: Darwis Triadi

Populer Lewat Brosur


Bali seolah memilki daya magnet yang besar. Tak ayal, pulau dewata ini begitu popular. Saking terkenalnya, suatu saat orang seorang bule (asing ditanya; apakah pernah ke Indonesia? Pria bule ini malah balik Tanya. Indonesia sebelah mana Bali, ya?

Padahal, Bali hanyalah bagian dari Indonesia. Tetapi begitulah. Bali memang dikenal oleh warga dunia karena pariwisatanya. Oleh karena itu, bisnis pariwisata di Bali berkembang amat pesat. Mulai dari pakaian pantai, rumah makan, penginapan seperti hotel dan resort.

Tulisan Agung Putri dari Jaringan Kerja Budaya yang berjudul “Pulau Dewata Surga Bagi Investor”, menarik disimak. Dalam tulisannya, dia menceritakan pembentukan posisi ”penting “ Bali sebagai tolok ukur stabilitas dan juga pertumbuhan ekonomi negeri ini sesungguhnya telah dibentuk sejak zaman kolonial.

Bali Merupakan daerah terakhir yang berhasil ditaklukkan Belanda untuk menetapkan kekuasaannya di kepulauan Nusantara pada awal abad ke 20. Proses penaklukan yang berdarah ini ternyata menimbulkan protes keras dari kalangan borjuis lieberal eropa sehingga penguasa kolonial perlu menampilkan wajah yang lebih manusiawi.

Maka, para penguasa, industrialis-pedagang dan intelektual pun bersekutu menciptakan “Pulau Dewata” istilah yang pertamakali di populerkan oleh brosur maskapai dagang kerajaan Belanda, KPM (Koninklijke Paketwaart Maatschappij) pada 1914.

Gambaran Bali yang romantis, harmonis dan “asli” jadi dagangan utama, menyingkirkan seluruh masalah sosial, ketegangan dan keributan yang muncul di kalangan masyarakatnya. Kalau pun ada kekerasan yang tak mungkin ditutupi, --seperti Puputan di Badung, Tabanan dan Klungkung – maka selalu saja ada intelektual yang bisa mereduksinya sebagai bagian dari Bali yang magis dan misterius.

Nama Bali makin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke Eropa dan Amerika atas prakarsa orang-orang asing dan pada tahun berikutnya makin banyak saja seni tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara. Selama pementasan selalu pertunjukan tersebut mendapat acungan jempol.

Bali yang pada saat itu sudah cukup dikenal masyarakat internasional karena keindahan alam, keunikan adat istiadat dan keseniannya, dianggap paling tepat menjadi “jendela pajangan Indonesia.”

Pada tahun 1965, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan kelompok negara-negara industri pemberi bantuan untuk Indonesia, IGGI, merancang Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) bagi Indonesia. Untuk 5 tahun pertama (1965-1974), turisme internasional ditetapkan sebagai faktor penentu pembangunan ekonomi Indonesia, dan Bali menjadi situs utama industri pariwisata.

Tahun 1970 dengan arahan konsultan turisme Perancis, SCETO dan dukungan financial dari Bank Dunia dan UNDP serta Keppres 1971, banyak barisan pemodal dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong membangun hotel, restoran serta mengembangkan industry kerajinan tangan dan hiburan.

Gempuran industri pariwisata tak hanya mengubah tampak fisik Bali sesuai dengan impian pemodal. Tetapi juga berhasil menanamkan ide bahwa Bali secara “alamiah” memang menarik minat turis.

Para seniman dan pengrajin mau tak mau tersedot ke dalam proyek-proyek “usaha kecil” untuk memproduksi kesenian massal. Mulai dari tulang sapi, batok kelapa hingga kerang tak luput menjadi barang dagangan.

Perkembangan berikutnya, sanggar-sanggar tari di pedesaan tidak lagi berfungsi sebagai tempat belajar menjadi penari yang baik. Tetapisebagai pusat latihan menjadi penari hotel. Pada “musim turis”, selusin gadis dan pemuda cilik peserta sanggar akan dibawa dengan truk pick - up untuk menari dari satu hotel ke hotel lain setiap malamnya.

Pertengahan 1980-an, di Bali mulai berkembang wisata jurang dan lembanh sungai. Salah seorang perintis wisata jurang ini adalah I Wayan Munut, yang membeli tanah di tepi jurang, untuk selanjutnya dibangun sebuah bungalow.

Kemudian hal ini menjadi ngetrend di Bali hingga sekarang ini. Harga tanah yang pada awal 1980 di daerah lembah atau jurang ini hanya Rp 125.000-175.000 per are. Kini harga tanah jurang sudah mencapai ratusan juta rupiah per are. Ternyata banyak wisatawan mancanegara yang gemar (menggemari) wisata jurang, lembah, dan sungai ini.

Tempat hunian yang sekarang digemari wisatawan asing di Bali adalah Hotel yang dibangun di lereng-lereng tebing atau jurang, yang memberikan suasana magis bagi para penghuninya. Kalau pada 1970 hingga 1980-an, hotel tau losmen di tepi pantai yang mereka gemari, sekarang sudah berubah.

Banyak wisman lebih senang menyepi atau menikmati wisata spiritual. Karena indahnya berbagai obyek pariwisata di Bali itu, citra (image) Bali lebih terkenal daripada Indonesia, di mata orang asing. Dan ini artinya dollar masih terus mengalir ke Pulau Dewata.